Logo HMI

HMI KOMISARIAT TARBIYAH

UIN RADEN INTAN LAMPUNG

PERIODE 2025-2026
opini

Organisasi atau Zona Nyaman? Menguji Relevansi Aktivisme Mahasiswa

hmikomtaruinril, Nasyiruddin Firdaus , 08 October 2026 —

Organisasi atau Zona Nyaman? Menguji Relevansi Aktivisme Mahasiswa

Oleh: Nasyiruddin Firdaus

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, mahasiswa dihadapkan pada berbagai pilihan untuk mengembangkan diri. Ruang belajar tidak lagi hanya berada di dalam kelas. Media sosial, komunitas, seminar, pelatihan, hingga berbagai platform digital menawarkan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman. Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: masih relevankah organisasi mahasiswa bagi generasi mahasiswa hari ini?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik ketika kita melihat realitas organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan intelektual dan sosial mahasiswa Indonesia, HMI tidak hanya dituntut untuk mempertahankan eksistensinya, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan generasi mahasiswa yang terus berubah.

HMI sejak awal tidak hanya dibangun sebagai tempat berkumpulnya mahasiswa. Ia memiliki cita-cita membentuk insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT. Dengan cita-cita tersebut, organisasi seharusnya menjadi ruang yang mendorong kader untuk terus belajar, berpikir, berdiskusi, berproses, dan mengambil peran di tengah persoalan masyarakat.

Namun, persoalannya bukan sekadar apakah organisasi masih relevan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah organisasi masih mampu menghadirkan relevansi tersebut kepada mahasiswa hari ini?

Ketika Organisasi Berubah Menjadi Rutinitas

Tidak sedikit mahasiswa yang masuk organisasi dengan semangat tinggi. Mereka hadir dalam diskusi, mengikuti kegiatan kaderisasi, menghadiri rapat, menjalankan program kerja, dan terlibat dalam berbagai agenda organisasi. Namun setelah beberapa waktu, aktivitas tersebut terkadang berubah menjadi rutinitas.

Rapat dilakukan karena memang sudah waktunya rapat. Diskusi dilakukan karena agenda organisasi mengharuskannya. Program kerja dilaksanakan karena sudah masuk dalam kalender kegiatan. Pada titik tertentu, organisasi tidak lagi menjadi ruang untuk bertumbuh, melainkan hanya menjadi ruang untuk menjalankan kebiasaan.

Di sinilah pertanyaan “organisasi atau zona nyaman?” menjadi relevan.

Organisasi dapat menjadi ruang bertumbuh ketika kader mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan gagasan, mengasah kemampuan, belajar menerima kritik, memimpin, bekerja sama, dan berhadapan langsung dengan persoalan nyata. Sebaliknya, organisasi dapat berubah menjadi zona nyaman ketika kader hanya mengejar jabatan, mempertahankan lingkaran pertemanan, mengulang pola lama, dan merasa cukup hanya karena aktif secara administratif.

Keaktifan tidak selalu berarti kebermaknaan.

Seorang kader bisa sangat sering hadir dalam kegiatan organisasi, tetapi belum tentu mengalami proses intelektual dan pembentukan karakter yang berarti.

HMI dan Tantangan Relevansi di Era Digital

HMI hari ini berhadapan dengan generasi mahasiswa yang hidup dalam ekosistem digital. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Diskusi dapat dilakukan melalui ruang virtual. Pengetahuan tersedia begitu luas di internet. Bahkan membangun jejaring dan melakukan advokasi tidak selalu membutuhkan pertemuan fisik.

Kondisi tersebut seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman semata. Justru, HMI memiliki peluang untuk memperluas ruang perjuangannya.

Pertanyaannya adalah apakah kader HMI mampu menggunakan teknologi sebagai instrumen perjuangan intelektual dan sosial, atau justru hanya menjadi konsumen informasi?

Jika dahulu diskusi kader mungkin hanya berlangsung di sekretariat, hari ini diskusi dapat berkembang melalui berbagai platform digital. Jika dahulu publikasi gagasan terbatas pada forum internal, hari ini kader dapat menyampaikan gagasannya kepada masyarakat yang lebih luas.

Dengan demikian, relevansi HMI tidak ditentukan oleh seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi oleh seberapa besar organisasi mampu menjawab persoalan zaman.

Kaderisasi Jangan Hanya Melahirkan Aktivis Kegiatan

Salah satu tantangan penting HMI adalah memastikan kaderisasi tidak berhenti pada kemampuan menjalankan kegiatan organisasi.

Kader seharusnya tidak hanya mampu membuat proposal, mengadakan rapat, menyusun kepanitiaan, atau berbicara dalam forum. Lebih dari itu, kader perlu memiliki kemampuan membaca realitas, membangun argumentasi, melakukan penelitian, menulis, berkomunikasi, memimpin, dan memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.

Sebab, jika kaderisasi hanya menghasilkan orang-orang yang pandai mengelola kegiatan tetapi tidak mampu membaca persoalan sosial, maka organisasi berisiko kehilangan substansi perjuangannya.

HMI perlu kembali bertanya kepada dirinya sendiri: kader seperti apa yang ingin dibentuk?

Apakah kader yang sekadar aktif dalam struktur organisasi? Atau kader yang mampu membawa nilai-nilai organisasi ke ruang akademik, masyarakat, dan kehidupan kebangsaan?

Pertanyaan ini penting karena organisasi mahasiswa seharusnya tidak menjadi tujuan akhir. Organisasi adalah ruang pembentukan manusia.

Keluar dari Zona Nyaman

Zona nyaman dalam organisasi tidak selalu berbentuk kemalasan. Kadang-kadang ia justru hadir dalam bentuk aktivitas yang sangat padat.

Kita bisa sangat sibuk dalam organisasi, tetapi tidak benar-benar berkembang.

Kita bisa menghadiri banyak forum, tetapi jarang membaca.

Kita bisa berbicara tentang intelektualitas, tetapi malas menulis.

Kita bisa mengaku memperjuangkan masyarakat, tetapi jarang turun melihat persoalan masyarakat.

Kita bisa berbicara tentang perubahan, tetapi takut mengkritik kebiasaan lama di dalam organisasi sendiri.

Karena itu, keluar dari zona nyaman berarti berani menguji kembali praktik organisasi yang selama ini dianggap biasa.

Apakah diskusi kita menghasilkan gagasan? Apakah kaderisasi kita menghasilkan perubahan? Apakah kepemimpinan kita memberikan ruang bagi kader untuk tumbuh? Apakah organisasi kita benar-benar hadir bagi persoalan mahasiswa dan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terasa sederhana, tetapi justru dari pertanyaan itulah evaluasi organisasi dapat dimulai.

Relevan Jika Mampu Beradaptasi

Organisasi mahasiswa tidak akan kehilangan relevansinya hanya karena zaman berubah. Yang membuat organisasi menjadi tidak relevan adalah ketika ia tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.

HMI memiliki modal sejarah, gagasan, tradisi intelektual, dan pengalaman kaderisasi yang panjang. Namun modal tersebut tidak cukup jika hanya dijadikan kebanggaan masa lalu.

Sejarah seharusnya menjadi pijakan, bukan alasan untuk berhenti bergerak.

HMI perlu memastikan bahwa tradisi intelektualnya tetap hidup, kaderisasinya mampu menjawab kebutuhan zaman, kepemimpinannya memberikan ruang bagi generasi baru, dan perjuangannya mampu menyentuh persoalan nyata yang dihadapi mahasiswa dan masyarakat.

Pada akhirnya, persoalannya bukan “apakah organisasi masih relevan?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apakah kita masih mampu membuat organisasi menjadi relevan?”

Sebab organisasi hanyalah wadah. Yang menentukan hidup atau matinya sebuah organisasi adalah manusia yang ada di dalamnya.

Jika HMI hanya menjadi tempat berkumpul, maka ia akan menjadi rutinitas. Jika HMI menjadi ruang belajar, maka ia akan menjadi tempat bertumbuh. Jika HMI menjadi ruang untuk membaca realitas dan mengambil tindakan, maka ia akan menjadi ruang perjuangan.

Maka, menjadi kader hari ini bukan sekadar tentang seberapa lama kita berada di dalam organisasi, tetapi tentang apa yang berubah dalam diri kita dan apa yang mampu kita ubah setelah berada di dalamnya.

Organisasi bukan tempat untuk mencari zona nyaman. Organisasi seharusnya menjadi ruang untuk menemukan keberanian keluar dari zona nyaman, bertumbuh dalam pengetahuan, matang dalam sikap, dan berjuang untuk menghadirkan perubahan.
KEMBALI KE LIST BERITA