Fahmi Alamsyah
"HMI adalah laboratorium intelektual"
Bersama Membangun Peradaban
Tagline ini menegaskan bahwa arah gerak tidak hanya berhenti pada aktivitas organisasi yang bersifat seremonial, tetapi berorientasi pada kontribusi nyata dalam membentuk peradaban yang berilmu, dan berakhlak. Kata “Bersama” menekankan kolektivitas kader, sinergi internal eksternal, dan kesadaran bahwa peradaban tidak dibangun oleh individu, melainkan oleh komunitas yang memiliki visi intelektual dan moral yang sama. Sedangkan “Membangun Peradaban” merupakan tujuan jangka panjang yang lahir dari implementasi sistematis seluruh misi organisasi.
Menurut Ibn Khaldun pada bukunya yang berjudul Muqoddimah, salah satu indikator utama lahir dan berkembangnya suatu peradaban adalah kemajuan ilmu pengetahuan. Maju atau mundurnya sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kualitas dan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan di dalamnya. Dengan demikian, substansi paling esensial dari peradaban adalah ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun, ilmu pengetahuan tidak akan tumbuh secara alamiah tanpa adanya komunitas yang aktif mengkaji, mengembangkan, dan mentransformasikannya. Karena itu, sebuah peradaban selalu berangkat dari komunitas kecil yang memiliki kesadaran intelektual. Ketika komunitas ini berkembang, ia akan meluas menjadi komunitas besar yang kemudian melahirkan struktur sosial yang lebih kompleks. Dalam sejarah Islam, perkembangan ini sering berpusat di kota-kota yang menjadi pusat ilmu dan peradaban, seperti Madinah, Cordova, Baghdad, Samarra, dan Cairo. Kota-kota tersebut pada awalnya tumbuh dari komunitas kecil, kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas intelektual, ekonomi, dan kebudayaan yang akhirnya melahirkan sistem masyarakat hingga terbentuknya negara.
Lebih jauh, Ibn Kholdun menjelaskan bahwa tanda-tanda hidupnya suatu komunitas yang berperadaban dapat dilihat dari berkembangnya teknologi (seperti tekstil, pangan, dan arsitektur), aktivitas ekonomi yang dinamis, kemajuan praktik kedokteran, serta tumbuhnya seni dan budaya seperti kaligrafi, musik, dan sastra. Semua indikator tersebut bermuara pada satu hal, yaitu keberadaan komunitas intelektual yang aktif, kreatif, dan produktif dalam menghasilkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan.
Tagline ini menjadi manifestasi operasional dari visi sebagai pusat kaderisasi intelektual yang unggul, kritis, dan berdaya saing. Visi tersebut hanya akan bermakna jika dijalankan melalui misi yang terstruktur, sebagai berikut:
1. Revitalisasi kultur intelektual dan spirit perkaderan
Kultur intelektual yang hidup akan melahirkan kader yang berpikir kritis, analitis, dan solutif. Dari sinilah fondasi peradaban dibangun, karena peradaban yang besar selalu ditopang oleh tradisi keilmuan yang kuat.
2. Pengembangan akademik dan peningkatan potensi kader di dunia pendidikan
Kader yang unggul secara akademik akan menjadi aktor perubahan di bidang pendidikan. Pendidikan yang berkualitas adalah instrumen utama dalam membangun peradaban yang maju dan berdaya saing global.
3. Kolaborasi eksternal untuk penguatan komisariat
Peradaban tidak dapat dibangun secara eksklusif. Sinergi dengan berbagai pihak lembaga pendidikan, organisasi lain, maupun stakeholder publik, dan alumni akan memperluas dampak kaderisasi dan mempercepat kontribusi nyata kepada masyarakat.
4. Kesadaran terhadap isu sosial, politik, dan ekonomi
Peradaban yang ideal bukan hanya cerdas, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial. Kader yang peka terhadap problematika masyarakat akan melahirkan gerakan yang solutif dan berpihak pada keadilan.
5. Pendidikan kritis dan kepedulian terhadap isu keummatan dan kebangsaan
Kader yang memiliki kesadaran keummatan dan kebangsaan akan menjaga keseimbangan antara identitas keislaman dan tanggung jawab keindonesiaan. Inilah karakter peradaban yang moderat, inklusif, dan berintegritas.
6. Pemanfaatan teknologi untuk kemajuan organisasi
Teknologi menjadi instrumen strategis dalam membranding citra baik dari organisasi, mempercepat distribusi gagasan, dan meningkatkan efektivitas gerakan. Peradaban modern dibangun di atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
7. Internalisasi nilai Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan
Nilai-nilai spiritual dan kebangsaan menjadi landasan etik dalam setiap gerakan. Peradaban yang dibangun bukan hanya maju secara intelektual, tetapi juga berakhlak dan berkarakter.
Misi ini sesuai dengan usaha-usaha HMI untuk mencapai tujuannya yang tertera pada anggaran dasar HMI pasal 7. Dengan demikian, “Bersama Membangun Peradaban” adalah pernyataan komitmen bahwa ketika seluruh misi dijalankan secara konsisten dan terintegrasi, maka akan lahir kader-kader yang:
• Berilmu dan berpikir kritis
• Berakhlak dan berintegritas
• Peka terhadap realitas sosial
• Mampu berkolaborasi dan berinovasi
• Berorientasi pada kemajuan umat dan bangsa
Dari kader seperti inilah peradaban yang unggul, dan berkelanjutan dapat terbangun.
Tagline ini bukan sekadar slogan, tetapi arah gerak kolektif. Ia menjadi identitas perjuangan kader di tingkat komisariat untuk menjadikan ruang kaderisasi sebagai laboratorium peradaban. Ketika visi dan seluruh misi terwujud secara konsisten, maka peradaban yang dicita-citakan bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang dibangun bersama oleh kader HMI Komisariat Tarbiyah.
Misi
-
1
Revitalisasi kultur intelektual dan spirit perkaderan
-
2
Mendorong pengembangan akademik yang unggul dan meningkatkan potensi kader di dunia pendidikan.
-
3
Menjalin Kolaborasi dengan eksternal untuk Penguatan Komisariat
-
4
Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu-isu sosial, politik dan ekonomi yang mempengaruhi masyarakat sekitar.
-
5
Membangun pendidikan kritis dan menumbuhkan kepedulian kader terhadap perkembangan isu keummatan dan kebangsaan.
-
6
Memanfaatkan Teknologi untuk Kemajuan Organisasi
-
7
Internalisasi Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan